430 dr 6666

mim ha mim da.

mim huruf ke 24 —–> surat ke 24 jumlah ayat 64

ha huruf ke 6 ——-> surat ke 6 jumlah ayat 165

mim huruf ke 24 —–> surat ke 24 jumlah ayat 64

da huruf ke 8 ——-> surat ke 8 jumlah ayat 75

Terus kita jumlahkan nomor surat dan jumlah ayat……

24 + 64 = 88

6 + 165 = 171

24 + 64 = 88

8 + 75 = 83

—— +

430

Pijakan baru Indonesia dari Chile

Ditulis oleh: Andre Vltchek

Diterjemahkan oleh: Rossie Indira

Beberapa tahun yang lalu saya berbicara dengan dua anggota pemerintahan Allende. Dua orang yang berhasil bertahan hidup. Salah satunya bercerita: “Dulu, sebelum kudeta, sebelum peristiwa 11 September 1973 yang mengerikan itu, mereka mengancam kami: “Awas kawan, Jakarta akan datang!””

“Waktu itu, kami tidak tahu banyak tentang Jakarta,” dia mengaku. “Kami hanya tahu bahwa itu adalah nama ibukota dari sebuah negeri yang jauh sekali dari sini yang disebut Indonesia… Tapi kemudian kami langsung tahu apa yang terjadi di sana…”

‘Jakarta’ bukan hanya sebuah ibukota dari negara keempat terpadat di dunia, tetapi juga merupakan ‘kota besar yang paling tidak layak huni, setidaknya di Asia Pasifik’. Jakarta juga mengacu pada sebuah konsep, sebuah percobaan/penelitian tentang manusia yang amat kompleks, yang dengan cepat berubah menjadi suatu cetak biru yang kemudian diterapkan oleh pihak Barat di seluruh negara-negara berkembang.

Percobaan yang disebutkan diatas mencoba mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan berikut ini: Apa yang terjadi pada negara miskin jika terjadi kudeta militer yang brutal, ditambah dengan fanatisme agama, dan kemudian dipaksa untuk hidupdi bawah kaki kapitalisme dan fasisme yang ekstrim? Dan apa yang terjadi jika hampir seluruh kebudayaannya dihancurkan, dan selanjutnya yang diimplementasikan bukannya pendidikan, melainkan mekanisme cuci otak yang disempurnakan di luar negeri?

Bagaimana kalau 2-3 juta orang dibunuh, lalu bahasa, budaya, teater, film seni, ateisme, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan aliran kiri dilarang?

Dan bagaimana kalau preman, pamswakarsa, struktur keluarga dan agama yang sudah kuno, serta media yang ompong, digunakan untuk mempertahankan ‘orde baru’?

Jawabannya adalah: Indonesia sebagai contoh/model! Hal ini berarti: hampir tidak ada produksi, lingkungan hancur, infrastruktur runtuh, korupsi endemik, bahkan tidak ada satu tokoh intelektual pun yang berkaliber internasional, dan terus terang saja populasi yang ada sekarang ini adalah populasi yang ‘buta huruf secara fungsional’, tidak tahu apapun tentang dunia, tentang sejarahnya sendiri dan sejarah kawasan sekitarnya, serta tidak tahu tentang posisinya di dunia ini.

Namun kesimpulan yang paling penting dari ‘percobaan’ ini adalah bahwa setelah pesta teror pada tahun 1965 dan 1966, setelah jutaan orang tewas, jutaan orang diperkosa, puluhan juta orang dipukuli dan disiksa, hasilnya adalah seluruh nusantara sepenuhnya bisa dibungkam dan tidak mampu melawan. Mereka mendapatkan sebuah kepulauan dengan penduduk yang tidak mampu berpikir, dan yang terus-menerus dijejali dengan slogan religius, slogan pop dan slogan ditelevisi, daripada penduduk yang berpikir tentang masa lalu, masa kini dan masa depan.

Jika Anda seorang penguasa lokal yang korup dan berkhianat pada rakyat, atau jika Anda adalah dalang yang mengendalikan negara tersebut dari luar negeri, yang Anda dapatkan adalah akses mudah ke semua sumber daya alam, populasi yang tidak dapat mengatur dirinya sendiri dan tidak dapat memperjuangkan hak-haknya, serta pemilih yang acuh tak acuh terhadap realitas yang ada dan tidak terbiasa dengan falsafah yang ada seperti misalnya martabat bangsa, dan karenanya mereka siap untuk memberikan suara hanya dengan imbalan uang.

Anda bisa memperoleh semua itu, bahkan lebih dari itu. Dan yang harus Anda lakukan hanyalah memastikan bahwa Anda membantai sekitar 2-3 %  jumlah penduduk, 40 % guru, dan bahwa Anda memperkosa jutaan perempuan dan anak-anak, kemudian menakut-nakuti dan membungkam semua kaum minoritas.

Pihak Barat memuji keberhasilan ini sebagai sesuatu yang bagus! Mereka menyampaikan selamat kepada ‘Soeharto – orang kami’ ( Pada tahun 1995, seorang pejabat senior pemerintahan Clinton memberikan komentar tentang Presiden Indonesia,Soeharto, pada kunjungan kenegaraannya ke Washington, dan menyebutnya sebagai ‘tipikal orang kami’). Bagaimanapun, membunuh jutaan ‘komunis’ adalah cara terbaik untuk mendapatkan kekaguman dan rasa hormat dari Gedung Putih dan Kongres Amerika Serikat. Dan ‘menjual’ negara kepada perusahaan-perusahaan Barat adalah langkah paling terhormat dan paling masuk akal untuk mendapatkan imbalan politik dan keuangan dari ‘dunia bebas’.

Untuk menakut-nakuti negara ini, untuk melumpuhkannya dengan rasa takut… Untuk meniadakan semua oposisi yang nyata, memang itu yang dibutuhkan! Soeharto dan kroni-kroni militernya, jenderal-jenderalnya (salah satunya adalah Presiden Indonesia sekarang), dan preman-premannya yang membunuh kaum intelektual, guru,penulis dan pemimpin serikat buruh, semua adalah ‘teman’ kami, ‘pasangan’ kami,‘sahabat’ kami yang terbaik.

Seperti halnya orang-orang itu, yang dengan patuhnya memutilasi orang, memperkosa gadis berusia 14 tahun dan meneror orang-orang yang masih mau berpikir dan berbicara, semua ini diperlihatkan secara rinci dalam film dokumenter karya Joshua Oppenheimer yang telah memenangkan berbagai penghargaan: ‘The Act of Killing’ (‘Jagal’).

Dan apa yang dilakukan pemirsa dan pembawa acara TV di Indonesia ketika para premanitu mengakui bahwa mereka telah membunuh ratusan orang? Mereka tertawa, bersorak, dan bertepuk tangan!

Pada tahun 1998, Soeharto lengser, tapi ‘model’nya selamat, bahkan masih dipromosikan,dan dipaksakan ke banyak negara di dunia ini. Model ini dipasarkan sebagai model yang ‘toleran dan demokratis’ oleh para pejabat pemerintahan dan lembaga-lembaga masyarakat di Eropa dan Amerika Serikat. Baru-baru ini saya diberitahu tentang hal tersebut oleh salah seorang anggota korps diplomatik di Kairo, Mesir, negara tempat dimana revolusi berhasil digelincirkan dan dihancurkan, terutama dilakukan dari luar negeri.

Dan kenapa juga tidak dipromosikan? Ini adalah mahakarya dominasi Barat: sebuah negara yang amat luas, sekarang benar-benar kacau dan hancur, habis dijarah dan dirampok, sepenuhnya bergantung pada pasar… Dan rakyatnya sepenuhnya dikondisikan, tidak terdidik, tidak terinformasi, dan mereka benar-benar tidak menyadari buruknya kehidupan mereka.

Di Indonesia, selama bertahun-tahun dan beberapa dekade, saya telah mewawancarai ratusan pria dan wanita miskin yang hidup di bantaran kali, buang hajat ke kanal yang kotor di kota-kota seperti Surabaya, Medan dan Jakarta, kemudianmenggunakan air yang sama untuk mencuci piring dan mandi… orang-orang yang mencoba bertahan hidup dengan pendapatan kurang dari 1 dolar per hari, yang masih dengan bangga menyatakan di depan kamera bahwa mereka tidak miskin, bahwa hidup mereka baik-baik saja, dan bahwa negara mereka baik-baik saja.

Dan tidak jauh dari tempat mereka, orang-orang kaya baru duduk manis di mobil-mobil SUV mereka yang mewah di dalam kemacetan lalu lintas yang sudah mencapai tingkatan epik, menonton televisi, tidak bisa kemana-mana, tapi mereka bangga karena mereka berhasil naik kelas.

Sukses sekali, bukan?! Keberhasilan mutlak dari demagogi fasis dan neo-kolonial serta ‘ekonomi pasar’!

‘Keberhasilan’ ini, tentu saja, dipelajari dan dianalisis di Washington, Canberra, London dan kota-kota lain. Model ini telah diterapkan di seluruh dunia, dalam bentuk danvariasi yang berbeda, namun dengan esensi yang sama: serang dan bunuh setiap makhluk yang berpikir, berikan terapi kejut dan cuci otak mereka… kemudian rampok orang-orang miskin dan kasih ganjaran/hadiah untuk beberapa penjahat…mulai dari Chile sampai Argentina, Rusianya Yeltsin sampai Rwanda, dan sekarang juga di Mesir.

Sistem ini berhasil hampir di mana-mana. ‘Jakarta sudah datang’, dan telah berhasil menyebarkan keburukannya, ketidaktahuannya, kebrutalannya dan cara‘berpikir’nya yang tanpa belas kasih di seluruh planet ini!

Tampaknya hal ini menjadi ‘perlakuan/pengobatan’ yang paling sempurna untuk menghilangkan perbedaan pendapat dan menghancurkan mimpi untuk memperoleh kebebasan diseluruh belahan dunia. Dan Amerika Serikat sibuk mengelolanya tidak hanya diseluruh belahan bumi bagian Barat, tetapi juga di Asia, Afrika, pokoknya dimana-mana. Pasukan-pasukan pembunuh dilatih di fasilitas militer Amerika Utara, untuk kemudian dikirim kembali untuk beroperasi di Honduras, Guatemala, El Salvador, Republik Dominika dan di banyak tempat malang lainnya.

Tentu saja para pasukan pembunuh ini tidak bisa dibandingkan dengan kesadisan para penjagal di Indonesia, tetapi mereka mencoba melakukan yang terbaik; kenyataannya, mereka bekerja cukup baik… Membuat otak imam pemberontak berceceran ketika dia sedang berkhotbah, memperkosa anak-anak perempuan remaja di depan orang tua mereka, memutilasi orang… memang ini versi lebih ringan dari apa yang terjadi di Jakarta, tetapi dibumbui dengan beberapa rasa ‘budaya’lokal.

Di Chile, salah satu demokrasi tertua di bumi ini, pengambilalihan kekuasaan oleh militer pada 1973/09/11, membawa inovasi-inovasi baru ke dalam rutinitas kesadisan yang ada: tahanan-tahanan wanita diperkosa oleh anjing, para tahanan dengan tangan terikat dilemparkan hidup-hidup ke laut dari helikopter, sementara ada juga yang dikirimkan kepada pengikut Nazi Jerman yang sudah tua yang menghuni sebuah tempat yang disebut ‘Colonia Dignidad’ di bagian selatan negara itu, dan mereka gunakan untuk percobaan/penelitian medis.

Kelihatannya, teror Barat yang berupa taktik kolonial yang disempurnakan dan diperhalus selama berabad-abad itu akhirnya akan menang secara global. Tampaknya hampir pasti bahwa tidak ada obat penawar yang manjur: Sebuah obat penawar sadisme dan ketakutan yang telah melumpuhkan sebagian besar rakyat di negara-negara klien.

Junta militer Chile memulai kekuasaannya dengan semangat yang sama seperti mitranya di Indonesia delapan tahun sebelumnya. Di Jakarta, para kader agama  Islam segera bergabung untuk melakukan pembunuhan dan penyiksaan, sementara di Santiago, yang bergabung adalah parakader konservatif Kristen, khususnya Opus Dei, yang benar-benar mendukung Jenderal Pinochet, pembunuh dan pemerkosa. Di kedua negara ini, ‘nilai-nilai keluarga yang konservatif ‘ dibangkitkan untuk memberikan pembenaran atas kekejaman paling mengerikan yang mereka lakukan.

Jalan-jalan di Santiago dan kota-kota Chile lainnya sunyi mencekam. Ketakutan ada dimana-mana. Anggota militer menendang pintu-pintu rumah dengan sepatu bot militernya dan banyak orang yang diseret ke ruang bawah tanah, disiksa, diperkosa, dan dibunuh.

Stadion Nasional penuh dengan laki-laki dan perempuan. Seperti yang terjadi di Jakarta, banyak orang-orang terkemuka dan berpendidikan disiksa dan dipukuli, bahkan dibunuh dengan entengnya.

Pada satu saat, para prajurit datang dan menangkap seorang penyair dan pencipta lagu yang merupakan salah satu penyanyi yang paling dicintai oleh rakyat di Amerika Latin, yaitu Victor Jara. Mereka mematahkan tangannya. Lalu mereka melemparkan sebuah gitar padanya dan berteriak: “Sekarang kamu boleh bernyanyi!”

Menurut saya, saat tersebut adalah saat yang paling signifikan, saat yang paling penting. Saat yang membedakan antara Santiago dan Jakarta! Saat ketika di Amerika Selatan, sebuah proses yang sangat panjang dan sulit dimulai: proses yang dapat digambarkan sebagai perjuangan untuk kebebasan, kebebasan sejati, bukan untuk slogan palsu kosong yang selalu diulang-ulang dalam propaganda Barat.

Karena pada saat itu, Victor Jara berdiri, kesakitan tapi tidak sudi dikalahkan, dan dengan penuh dendam dia bernyanyi dihadapan para penyiksanya, langsung ditujukan ke moncong senjata yang mereka pegang: “Venceremos!” (artinya: Kami akan menang!)

Dia bernyanyi dengan suara lantang, dan setelah beberapa saat, para penyiksanya tidak tahan lagi mendengar suaranya, apalagi liriknya yang ditujukan langsung kepada mereka, dan akhirnya mereka menembak mati Victor Jara.

Tapi Victor Jara tidak mati, malah dia menjadi simbol perlawanan dan perjuangan melawan fasisme dan imperialisme. Dia menjadi simbol perjuangan yang masih harus terus dilakukan dan hal ini menjadi momentum di berbagai belahan dunia!

Pada tahun 1965, di Jakarta tidak ada perjuangan. Para korban membiarkan diri mereka untuk disembelih. Mereka memohon belas kasihan karena mereka dicekik, ditusuk,dan ditembak mati. Mereka memanggil para penyiksa, pembunuh, dan pemerkosa mereka dangan sebutan ‘pak’ dan ‘mas’ ( panggilan hormat buat laki-laki). Mereka menangis dan memohon ampun.

Pada tahun 1973, di Santiago, Chile, laki-laki dan perempuan muda mengungsi ke gunung untuk melawan fasisme, dan bergabung di bawah bendera MIR. Ada sekitar 10.000 orang anggota MIR. Hal ini merupakan pertarungan yang bersih dan membanggakan, karena MIR secara tegas menolak segala bentuk terorisme dan mereka memusatkan perlawanannya pada sasaran militer.

Ratusan ribu orang Chile meninggalkan negaranya, pergi berpencar ke seluruh penjuru dunia, mulai dari Meksiko sampai Swedia, dari Kanada sampai ke Selandia Baru. Kemanapun mereka pergi, tanpa henti mereka bekerja untuk menjatuhkan Pinochet dan junta militernya yang didukung oleh Amerika Serikat. Mereka menulis naskah teater dan drama radio, membuat film yang punya pesan yang kuat, menulis novel,mengatur pertemuan dan demonstrasi di hampir seluruh ibukota utama dunia. Mereka tidak pernah menyerah. Mereka mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan. Jutaan orang di tanah air dan ratusan ribu orang yang terpaksa tinggal di luar negeri.

Akhirnya, Augusto Pinochet menjadi simbol kekuatan militer yang bobrok, simbol pengkhianatan, kolonialisme, dan fasisme modern.

Di Indonesia, para korban menerima ‘nasib’ mereka begitu saja dan oleh karenanya mereka diganjar dengan mendapatkan jenis fundamentalisme pasar yang paling menjijikkan. Mereka menerima sistem politik fasis yang melucuti semua hak-hak kaum miskin (kenyataannya, sebagian besar penduduk). Mereka menerima sistem pengaturan negara yang bergaya premanisme dan mafia. Mereka menerima sistem yang menyatakan bahwa perempuan masih diperlakukan sebagai milik ayah mereka dan kemudian sebagai milik suami mereka, sementara mereka yang bekerja dan memegang posisi penting diperlakukan seperti pelacur oleh atasan, rekan kerja dan bahkan oleh sesama anggota parlemen.

Di Chile, tidak ada yang benar-benar ‘diterima’. Tidak ada yang lupa dan tidak ada ampunan. Alih-alih melihat ‘elit’ penguasa sebagai pahlawan, mayoritas warga Chile melihat mereka sebagai sekelompok bandit. Alih-alih melihat orang tua mereka dengan kepatuhan budak ‘ala Indonesia’, sejumlah besar pemuda Chile meminta mereka bertanggung jawab dalam menciptakan atau setidaknya mentoleransi sistem yang mengerikan ini.

Sementara Indonesia menjadi negara kedua (setelah Nigeria) yang paling religius di muka bumi ini (kendati fakta menyatakan bahwa kader Muslim dan Hindu secara langsung bertanggung jawab dalam beberapa kejahatan kemanusiaan yang paling mengerikan, sementara penganut agama Kristen akhir-akhir ini menyatakan percaya bahwa Tuhan mengasihi orang kaya dan membenci orang miskin, ikut serta dalam melakukan segregasi di masyarakat, dan bahkan secara terbuka bersikap rasis), Chile melakukan reformasi hukum, melakukan modernisasi pendidikan, dan mengirim penganut agama Kristen untuk beribadah di tempat mereka sendiri – digereja-gereja dan tidak terlihat dari mata publik.

Di Indonesia, Soeharto memang lengser namun sistemnya bertahan bahkan menjadi lebih kuat. Salah satu jenderal di bawah pemerintahan Soeharto kini menjabat sebagai Presiden negara ini. Dan beberapa dekade lalu dia adalah salah satu tokoh militer terkemuka di Timor Timur yang diduduki (oleh Indonesia), saat terjadi pembantaian paling mengerikan, saat terjadi genosida di mana sekitar 30% dari penduduk lokal meninggal dunia. Ayah mertuanya yang juga jenderal sesumbar bahwa setelah kudeta di tahun 1965, mereka, militer, berhasil membunuh sekitar 3 juta orang.

Di Chile, seperti juga di Argentina, sebagian besar pemimpin militer yang melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan kini ada di penjara, dipermalukan dan dihina.

Tentu saja, militer Indonesia dan Chili sudah melakukan pengkhianatan tingkat tinggi dengan menjual jasa mereka kepada kekuatan asing, dan bukannya membela rakyatnya sendiri, mereka berjuang untuk uang, dan melawan perempuan-perempuan dan anak-anak bangsanya sendiri yang tidak berdaya.

Di Indonesia, banyak yang menganggap bahwa salah satu jagal paling bengis di abad ke-20, dan penguasa paling korup sepanjang masa, Jenderal Soeharto, adalah pahlawan nasional! Di Chile, Jenderal Augusto Pinochet sekarang jelas dipandang sebagai penjahat oleh sebagian besar rakyat Chile.

Di Indonesia, antara 2 dan 3 juta orang dibunuh pada tahun 1965-1966. Di Chile, jumlahnya hanya 3-4 ribu orang. Bahkan bila dibandingkan dengan jumlah penduduk masing-masing negara pada waktu itu, perbedaan jumlah orang yang dibunuh masih amat luar biasa. Namun demikian, di Chile ada ratusan buku yang ditulis tentang masalah ini, puluhan film dibuat, dan topik ini terus menerus dibahas di koran, majalah dan program televisi – semua ini adalah bagian penting dari memori nasional. Tampaknya ada konsensus bahwa tanpa semua hal diatas, tidak akan ada masa depan.

Di Indonesia, yang ada bahkan penghentian informasi secara mutlak dan tutup mulut.

Penduduk Indonesia benar-benar percaya pada propaganda yang mereka terima selama beberapa dekade. Hal ini terlihat ketika ada upaya baru untuk menghidupkan kembali topik ini, yaitu pada pemutaran film dokumenter berjudul ‘Setelah 15 Tahun’ (mengacu pada jumlah tahun sejak Soeharto lengser), hanya ditonton oleh 5 orang saja di sebuah bioskop besar di Jakarta… Dan ini terjadi pada suatu Sabtu sore.

Sabtu sore di Santiago, Chile adalah saat ketika seluruh kota bersiap-siap untuk melewatkan malam yang sangat panjang. Puluhan teater siap menawarkan berbagai jenis pertunjukan, mulai dari pertunjukan klasik sampai yang avant-garde. Klub-klub malam juga sedang mempersiapkan pentas untuk band-band paling anyar yang datang dari berbagai tempat di seluruh Amerika Latin. Musik yang bisa kita nikmati mulai dari opera dan simfoni, sampai ke balada, salsa dan cumbia. Bioskop yang tersebar di seluruh pelosok kota pun menyajikan film-film yang baru dirilis, mulai dari film-film Asia, ataupun film seni dari Amerika Latin dan Eropa.

Memang ada beberapa yang mengikuti ideologi ‘seni untuk seni’, tapi lebih banyak yang sangat politis, untuk membentuk karakter bangsa dan membicarakan isu-isu penting, termasuk masa lalu.

Obsesi yang sama terhadap segala sesuatu yang bersifat budaya dan pengetahuan ini normal buat kota-kota di ‘kerucut Selatan’, termasuk Buenos Aires, Sao Paulo dan Montevideo. Anda tahu maka anda ada. Agar dapat memahami dunia maka perlu bebas, mandiri, dan hidup. Pengetahuan sangat dihargai; bahkan sangat dihormati.

Sekitar 15 ribu kilometer ke arah Barat dari Chile, hampir tidak ada yang bisa dilakukan di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Surabaya atau Medan pada Sabtu malam. Tentu saja banyak restoran disana dan ada beberapa mulipleks yang memutar film-film Hollywood yang berkualitas rendahan. Tetapi tidak ada bioskop yang khusus memutar film seni, tidak ada panggung teater permanen (mungkin hanya menampilkan satu pertunjukan teater setiap bulannya di kota sebesar Jakarta yang mempunyai 12 juta penduduk). Memang ada juga konser-konser yang diselenggarakan oleh pusat-pusat kebudayaan Eropa tapi tidak sering, atau konser yang dikhususkan untuk para ‘elit’ di ruang-ruang pertunjukan pribadi yang tidak mudah dicapai.

Hidup sangat membosankan di Indonesia, karena tidak ada variasi/keragaman dan tidak bisa memberikan inspirasi intelektual. Dan memang hal inilah yang mereka rencanakan.

Untuk pergi ke tempat-tempat pertunjukan teater, kebanyakan warga Santiago memilih untuk menggunakan metro, salah satu angkutan publik yang paling baik dan palinge fisien di bumi. Setiap stasiunnya didedikasikan untuk para seniman lokal, banyak yang dilengkapi dengan perpustakaan umum, dan bahkan ada yang dilengkapi dengan bioskop yang memutar film seni yang gratis, di mana seseorang dapat duduk sepanjang hari dengan hanya membayar satu token metro dan bisa menonton film-film klasik yang terkenal di dunia.

Jakarta tidak punya metro, hampir tidak ada tempat pejalan kaki, dan hanya punya beberapa taman publik. Untuk menyeberang jalan, kadang kita harus naik taksi. Kemacetan di kota ini sudah mendekati, beberapa orang bahkan mengatakan sudah mencapai, tingkatan macet total.

Chile merangkul ilmu pengetahuan dan segala sesuatu yang bersifat ‘publik’. Indonesia terjebak dalam budaya pop yang benar-benar tidak keren dan murahan, tenggelam dalam individualisme yang membuat depresi, dan dipaksa untuk mengagumi semua yang bersifat ‘pribadi’.

Negara-negara Amerika Selatan yang menderita akibat kediktatoran brutal yang diterapkan oleh pihak Barat sekarang ini sudah bebas dan punya pemerintahan yang sosialis.

Pemerintahan Indonesia dijalankan oleh para preman, jenderal-jenderal yang sudah tua dan oleh kelompok/klik kapitalis yang muram dan bobrok.

Para perempuan sudah memimpim Brazil, Argentina dan Chile, sementara Indonesia dipimpin oleh seorang laki-laki yang dulu pernah menjadi pemimpin sebuah unit militer di Timor Timur saat terjadi genosida.

Michelle Bachelet yang sudah siap untuk menang di babak kedua dan kembali menjadi Presiden Chile (setelah sebelumnya menjadi kepala UNIFEM) adalah seorang dokter, dokter anak, ibu tunggal dari 3 orang anak dan juga seorang atheis. Ayahnya, seorang jenderal militer di bawah pemerintahan Allende, dibunuh oleh rezim Pinochet, dan Michelle Bachelet juga disiksa secara brutal dalam tahanan. Dia meninggalkan negaramya dan dilatih sebagai dokter di Jerman Timur, sebelum balik ke tanah airnya.

Sementara Camila Vallejo (25 tahun) dan teman-temannya yang juga menjadi pemimpin mahasiswa siap menjadi anggota parlemen di Chile, banyak dari mereka mewakili Partai Komunis. Anggota parlemen perempuan di Indonesia mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh sesama anggota parlemen dan dilakukan di gedung Parlemen. Partai Komunis tegas-tegas dilarang di Indonesia, hanya untuk memastikan bahwa tidak akan ada lagi yang mendorong untuk memperjuangkan reformasi tanah dan keadilan sosial.

Rakyat Chile saat ini berjuang untuk mendapatkan pendidikan dan perawatan medis gratis, dan diharapkan bahwa tuntutan mereka akan terpenuhi selama masa kepemimpinan presiden Bachelet.

Rakyat Indonesia hidup dengan sistem perawatan medis dan pendidikan yang sudah benar-benar bobrok, dan siapa saja yang mampu akan pergi berobat ke rumah sakit di Singapura atau Malaysia, dan pergi sejauh mungkin untuk memperoleh pendidikan.

Sekolah swasta tak terhitung jumlahnya di seluruh Indonesia, sebagian besar dengan basis agama. Tampaknya, mereka mengkhususkan diri dalam memproduksi anak-anak muda yang tidak unggul dalam bidang apapun kecuali untuk melayani dogma kapitalis dan agama, serta untuk mencuri demi klan keluarga mereka.

Sementara Chile berjuang mati-matian melawan kemiskinan di semua lini, termasuk dengan membangun perumahan sosial berkualitas tinggi, kesenjangan social di Indonesia adalah yang paling lebar di dunia ini, dan bahkan pemerintahnya berbohong tentang jumlah penduduk yang sebenarnya (negara ini punya lebih dari 300 juta penduduk tapi hanya sekitar 247 juta orang yang diakui dan dicatat), untuk mengantisipasi bahwa suatu hari, mungkin rakyat akan menuntuk si miskin untuk diberi tempat tinggal, diberikan pendidikan, dan diberikan perawatan kesehatan.

Chilea dalah salah satu negara yang paling tidak korup di dunia, sementara korupsi di Indonesia adalah salah satu yang tertinggi, dengan mantan ‘orang kami’ Soeharto masuk buku rekor sebagai penguasa paling korup sepanjang masa.

Indonesia dan Chile dua negara yang pernah melalui neraka fasisme, tetapi di akhir neraka itu ada dua cerita yang benar-benar berbeda.

Negara yang satu – Indonesia – menyerahkan diri, berkolaborasi dan pada akhirnya gagal, hancur, dan menjadi seperti kebanyakan negara-negara malang di sub -Sahara Afrika.

Negara yang lain berjuang, bangga, konsisten, dan menang, sekarang menjadi salah satu negara yang paling layak huni di bumi ini, dengan kualitas hidup sebanding dengan negara-negara di Uni Eropa.

Negara yang satu tidak mampu menghasilkan sebuah novel pun yang layak dibaca setelahpenulis komunis besarnya – Pramoedya Ananta Toer (mantan tahanan politik yang buku dan manuskripnya dibakar oleh pengikut Soeharto) – meninggal dunia. Negara ini tidak menghasilkan apapun yang bernilai intelektual: tidak ada musik atau film yang berkualitas, tidak ada penelitian ilmiah, tidak ada konsep-konsep pendidikan yang monumental.

Negara yang lain – Chile – melahirkan penulis, penyair, pembuat film dan arsitek modern yang terkenal. Dan juga menghasilkan anggur yang termasuk terbaik di dunia!

Model yang diterapkan di Indonesia memang menakutkan, tetapi masih bisa dikalahkan. Model ini hanya akan berhasil jika orang menolak untuk melawan, jika mereka tunduk pada teror.

Di Indonesia, individu-individu diharapkan untuk patuh pada kendali keluarga dan agama yang brutal. Sejak lahir, mereka sudah dikondisikan: hidup dengan rasa takut, tapi mereka menganggapnya sebagai rasa ‘cinta’. Yang paling ditakuti pertama kali adalah ayah, lalu ulama, dan kemudian guru. Hal ini kemudian berkembang menjadi rasa takut kepada militer dan kediktatoran kapitalis. Pada akhirnya rasa takut itu melumpuhkan ‘segalanya’, dan menghentikan setiap pemberontakan bahkan pada tahap embrio.

Suatu hal yang sangat menyedihkan dan membuat depresi. Dan model ini ternyata bekerja dengan baik. Tapi yang pasti tidak di semua tempat!

Pemberontakan bisa lebih sukses. Pemberontakan sudah sukses di seluruh Amerika Latin termasuk Chile. ‘Jakarta memang datang’, tapi dilawan dan langsung dihancurkan.

Tetapi sebagai hasil dari upaya bersama dari propaganda lokal dan Barat, keberhasilan Amerika Latin ini jarang diketahui di Indonesia. Dan tidak ada satupun yang berteriak di Jakarta di hadapan wajah-wajah brutal para elit: “Hai para bandit, awas…Santiago akan datang!”

* Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh Counterpunch, Edisi Akhir Pekan November 22-24, 2013 dengan judul: ‘Fight or Flight: Chilean Socialism 1: Indonesian Fascism 0’. (http://www.counterpunch.org/2013/11/22/chilean-socialism-1-indonesian-fascism-0/)

Andre Vltchek adalah seorang novelis, pembuat film dan wartawan investigasi. Dia telah meliput perang dan konflik di berbagai negara. Diskusinya dengan Noam Chomsky tentang Terorisme Barat sudah diterbitkan. Novel politiknya ‘Point of No Return’ kini telah disunting kembali dan sudah diterbitkan dan tersedia. Oceania adalah bukunya tentang imperialisme Barat di Pasifik Selatan. Buku provokatif tentang Indonesia pasca-Suharto dan model fundamentalis pasar diberi judul ‘Indonesia -The Archipelago of Fear’. Dia baru saja menyelesaikan film dokumenter  ‘Rwanda Gambit’ tentang sejarah Rwanda dan penjarahan DR Kongo. Setelah tinggal selama bertahun-tahun di Amerika Latin dan Oceania, Vltchek saat ini tinggal dan bekerja di Asia Timur dan Afrika. Diadapat dihubungi melalui website-nyaatau akun twitternya.